Sabtu, 27 Desember 2008

INISIASI MENYUSU DINI

INISIASI MENYUSU DINI


Untuk menunjang keberhasilan ASI eksklusif, saat ini tengah digalakkan Early Latching On (ELO) atau lebih dikenal dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD ini dilakukan langsung setelah bayi dilahirkan (tubuh bayi hanya dikeringkan kecuali bagian tangan dan tidak dimandikan), dengan meletakkan bayi pada dada ibu dan membiarkannya mencari puting ibu dan menyusu secara alami. Ini berlangsung selama bayi masih terjaga, +/- 1-2 jam setelah kelahirannya. Proses IMD dapat dilakukan pada persalinan normal maupun caesar (usahakan ibu tidak dibius total agar tidak mempengaruhi tingkat kesadaran bayi saat melakukan IMD).

Mengapa kontak kulit ibu dan bayi begitu penting saat IMD?

    1. Dada ibu menghangatkan bayi dan dapat menurunkan resiko Hypothermia dan kematian akibat kedinginan
    2. Bayi berkurang stress, lebih tenang, pernafasan dan detak jantung lebih stabil
    3. Bayi terpapar kuman ibu yang TIDAK BERBAHAYA, bakteri kemudian membentuk koloni dalam usus bayi yang bertugas memerangi bakteri lainnya yang jahat
    4. Bayi memperoleh kolostrum (liquid gold)
    5. Sentuhan bayi merangsang hormon oksitosin
    6. Pertemuan pertama orangtua dan bayi yang begitu menyenangkan

Tata Laksana IMD (Inisiasi Menyusui Dini):

    1. Ibu didampingi suami dan/atau anggota keluarga yang turut mendukung IMD
    2. Anjurkan tindakan tanpa obat dalam membantu kegiatan persalinan (termasuk untuk episiotomi yang tidak diperlukan)
    3. Izinkan posisi melahirkan yang sesuai yang dipilih oleh ibu
    4. Segera setelah bayi menangis, keringkan dengan tetap mempertahankan vernix (terutama pada bagian tangan) – tidak perlu dilakukan suction pada mulut dan hidung bayi apabila bayi sudah bisa menangis sendiri
    5. Letakkan bayi telanjang, posisi tengkurap dan menghadap ibu, pada dada telanjang ibu sehingga terjadi kontak kulit – selimuti keduanya bila perlu
    6. Biarkan bayi mencari sendiri payudara ibu, jangan dipaksakan pada puting ibu
    7. Dukung dan bantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau perilaku bayi sebelum menyusu (pre feeding) yang dapat berlangsung beberapa menit atau satu jam bahkan lebih, di antaranya:
  • Istirahat sebentar dalam keadaan siaga, menyesuaikan dengan lingkungan
  • Memasukkan tangan ke mulut, gerakan mengisap, atau mengeluarkan suara
  • Bergerak ke arah payudara
  • Daerah areola biasanya yang menjadi sasaran
  • Menyentuh puting susu dengan tangannya
  • Menemukan puting susu, reflek mencari puting (rooting) melekat dengan mulut terbuka lebar
    8. Bayi berada dalam keadaan alert /sadar rata-rata selama 2 jam setelah kelahiran – apabila setelah 1 jam bayi tidak berhasil menemukan puting ibu, dapat dibantu dengan diarahkan
    9. Pertahankan kontak kulit antara ibu dan bayi sampai dengan dan selama bayi menyusu
    10. Bantu ibu yang melahirkan secara sectio untuk sedapat mungkin berhasil melakukan kontak kulit dan IMD
    11. Tunda prosedural rumah sakit terhadap bayi, seperti bayi ditimbang, diukur, diberi salep mata, disinar, dicap, suntikan vitamin, dll sampai dengan bayi selesai menyusu
    12. Bayi jangan diberikan cairan pre laktal, kecuali ada indikasi medis
    13. Dengan rawat gabung ibu (bayi selalu bersama ibu selama 24 jam) akan mudah merespon bayi dan menghindari potensi pemberian susu formula dan makanan atau minuman pre laktal

PELEKATAN YANG BENAR SAAT MENYUSUI

Langkah pertama untuk mendapatkan pelekatan yang benar adalah dengan membuat bayi membuka mulutnya secara lebar. Arahkan puting ke hidung bayi dan posisi kepala bayi di bawah payudara ibu. Tempelkan payudara atau areola pada bibir bawah bayi dan doronglah bayi untuk membuka mulutnya dengan lebar seolah-olah sedang menguap.

Ketika bayi sudah membuka mulutnya dengan lebar, tariklah bayi secara cepat ke arah payudara dengan cara menggerakkan badan (bukan kepala bayi ke arah ibu) dengan lengan yang sedang menopang. Pastikan bahwa bayi yang digerakkan ke arah payudara ibu dan bukan sebaliknya.

Pelekatan yang benar:

      1. Chin - pastikan dagu bayi menempel pada payudara ibu
      2. Areola – pastikan bahwa yang masuk ke dalam mulut bayi adalah puting dan sebagian besar areola yang berada di bagian bawah mulut bayi lebih sedikit dibandingkan dengan areola yang berada di atas mulut bayi
      3. Lips – pastikan bahwa baik bibir atas maupun bibir bawah bayi terputar ke luardan tidak terlipat ke dalam ataupun berbentuk monyong
      4. Mouth – pastikan bahwa mulut bayi terbuka lebar dan menempel pada payudara ibu

Posisi badan ibu dan bayi:

  • Biarkan kepala bayi terjatuh pada pertengahan lengan bawah atau pergelangan tangan ibu
  • Pegang bagian belakang dan bahu bayi
  • Hadapkan seluruh badan bayi pada badan ibu
  • Dekap bayi di bawah payudara
  • Dada bayi melekat di bawah dasar payudara (dada ibu)
  • Dagu bayi menempel pada payudara
  • Hidung bayi menjauhi payudara
  • Bahu dan lengan ibu tidak tegang dan dalam posisi natural

Tanda ASI cukup:

  • BAK 5-6x sehari
  • BAB 2x/lebih sehari
  • Mengakhiri menyusu sendiri
  • Bayi relaks dan puas setelah minum

Kunci keberhasilan dalam menyusui – 5 C:

      1. Class – mengikuti kelas tatalaksana menyusui yang diselenggarakan oleh pihak rumah sakit, rumah bersalin, asosiasi pendukung ibu-ibu ASI, dll
      2. Camaraderie – lingkungan yang mendukung (keluarga, rekan kerja, kelompok pendukung ibu-bu ASI), memilih RS yang menerapkan 10 langkah menuju keberhasilan ASI yang ditetapkan WHO
      3. Consultants – menghubungi pihak-pihak yang ahli mengenai ASI (dokter anak yang pro dan memiliki pengetahuan tentang ASI, klinik/konselor laktasi, asosiasi pendukung ibu-ibu ASI)
      4. Confidence – percaya diri (percayalah bahwa setiap ibu pasti bisa menyusui bayinya)
      5. Commitment – dengan komitmen, akan mengupayakan segala cara demi keberhasilan ASI ekslusif

ASI VS SUSU FORMULA

Manfaat ASI bagi ibu:

  • Mencegah pendarahan post partum – hisapan bayi menghasilkan hormon progesteron yang merangsang kontraksi rahim untuk mencegah pendarahan
  • Mengecilkan rahim – dengan meningkatnya hormon oksitosin, membantu rahim kembali ke ukuran semula
  • Mengurangi terjadinya anemia – resiko anemia karena kekurangan zat besi dapat dihindari dengan penundaan kembalinya masa haid dan pengurangan pendarahan
  • Menunda kesuburan – pelaksanaan ASI eksklusif dan tanpa haid memiliki kemungkinan hamil hanya 1,8%, dan dengan haid 27,8%
  • Lebih cepat langsing kembali – diperlukan energi untuk menyusui dan pembentukan ASI diambil dari cadangan lemak yang tertimbun
  • Menimbulkan ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak
  • Membantu proses pendisiplinan anak – orangtua belajar membaca tanda-tanda yang diberikan anak dan anakpun belajar mempercayai ibunya - dasar pengembangan rasa hormat pada orangtua
  • Mengurangi kemungkinan kanker payudara, rahim dan ovarium
  • Mengurangi kemungkinan osteoporosis dan rematik – resiko terkena osteoporosis 4 kali lebih kecil dibandingkan dengan wanita yang tidak menyusui
  • Tidak merepotkan dan hemat waktu – dapat segera diberikan tanpa harus memasak air, menakar susu, mencuci dan mensterilkan botol, menunggu susu agar tidak terlalu panas,dll
  • Portabel dan praktis – mudah dibawa, kapan dan di mana saja, siap minum dengan suhu yang selalu tepat
  • Lebih ekonomis/murah – tidak perlu membeli susu formula dan perlengkapannya
  • Menghemat biaya pengobatan – bayi dengan susu formula 16 kali lebih sering dirawat di rumah sakit
  • Manfaat bagi ibu bekerja – penelitian menunjukkan prestasi kerja ibu ASI ekslusif meningkat dan lebih jarang bolos ke kantor (25%) dibandingkan dengan ibu susu formula

Manfaat ASI bagi bayi:

  • ASI sebagai nutrisi – lengkap dan mudah dicerna
  • ASI meningkatkan daya tahan tubuh
  • ASI meningkatkan kecerdasan – memiliki IQ 7-10 poin lebih tinggi dari anak susu formula, bahkan 12,9 poin saat usia 9,5 th
  • ASI meningkatkan perkembangan emosi, kepribadian dan percaya diri – ikatan yang terjadi saat menyusui membuat anak percaya pada orang lain (ibunya) dan berkembang menjadi rasa percaya diri

Berdasarkan penelitian di beberapa negara, ditemukan bahwa bahaya pemberian susu formula pada bayi sbb:

  • Meningkatnya resiko asma
  • Meningkatnya resiko penyakit pernafasan
  • Meningkatnya resiko alergi
  • Perkembangan kognitif yang menurun
  • Meningkatnya resiko infeksi akibat susu formula yang terkontaminasi (butiran kaca, mikroorganisme, lapisan dalam kaleng yang mengelupas, butiran metal, PVC, bakteri salmonella, proses produksi yang tidak higienis, dll)
  • Meningkatnya resiko kanker pada anak-anak
  • Meningkatnya resiko diabetes
  • Meningkatnya resiko penyakit jantung
  • Meningkatnya resiko obesitas
  • Meningkatnya resiko infeksi saluran pencernaan
  • Meningkatnya resiko kematian (akibat diare, saluran pernafasan dan SIDS/Sudden Infant Death Syndrome)
  • Meningkatnya resiko infeksi saluran telinga
  • Meningkatnya resiko efek samping dari pencemaran lingkungan
  • Meningkatnya resiko penyakit lainnya

Sumber:
Breastfeding Class 27/10/2007 - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia www.aimi-asi.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar